MASYARAKAT cenderung tidak pernah melihat kelebihan anak-anak yang terserang penyakit autis. Kelebihan anak-anak malang ini seringkali tertutupi oleh kekurangannya.
Demikian antara lain dikemukakan Penanggung jawab Sekolah Mandiga Jakarta (khusus anak autis), Dyah Puspita pada acara bedah bukunya berjudul “Untaian Duka Taburan Mutiara” di Toko Buku Toga Mas Surabaya, beberapa waktu lalu.
“Setiap anak itu mempunyai keunggulan dan kekurangannya masing-masing, demikian juga anak autis, tapi plusnya seringkali tertutupi oleh minusnya,” kata Dyah.
Wanita yang memiliki anak penderita autis, Ikhsan Priatama itu mengemukakan, ada tiga jenis gangguan yang hinggap pada diri anak autis, yakni interaksi, perilaku dan komunikasi. Namun sebagai praktisi dan psikolog, dirinya tidak mau mengklasifikan anak didiknya ke dalam jenis-jenis tertentu.
“Saya kira sulit menentukan label-label seperti itu. Ada kecenderungan orangtua sibuk ke mana-mana mencari label anaknya menderita jenis autis mana sehingga habis waktu untuk itu,” kata lulusan Fakultas Psikologi UI yang sejak 1997 aktif sebagai pengurus Yayasan Autisma Indonesia itu.
Menurut dia, melalui buku yang ditulisnya itu, dirinya berkeinginan agar orangtua yang memiliki anak autis tidak mengulangi kesalahan yang pernah diperbuat dalam membesarkan dan mengasuh anaknya. Melalui buku ini diharapkan orangtua memiliki wawasan lengkap sehingga tidak banyak membuang waktu.
“Banyak pengalaman tidak menyenangkan yang saya alami selama mengasuh Ikhsan. Saya berulang-ulang jatuh bangun dalam hal ini, tapi semua ada hikmahnya,” katanya.
Ia mengemukakan, anak autis memiliki perasaan yang sama dengan anak normal, sehingga dalam mengasuhnya orangtua tidak boleh memaksakan kehendak karena hal itu
akan menimbulkan rasa stress atau tertekan pada anak.
Menurut Dyah, satu hal yang selalu dipegangnya dalam mengasuh anak semata wayangnya itu adalah tidak pernah berhenti dan tidak putus asa. Ia selalu berupaya untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki anaknya tanpa adanya pembatasan usia maupun target.
“Jadi terus saya dorong,tidak pernah berhenti. Sekarang anak saya berumur 14 tahun dan belum bisa bicara, tapi sudah bisa berkomunikasi, yang terakhir saya belikan hand phone yang lama, yakni satu tut berisi satu huruf. Dia bias ber-SMS dengan saya,”
katanya.
Ia bercerita sesuatu yang cukup lucu saat berkomunikasi lewat SMS dengan Ikhsan. Suatu ketika dirinya sedang bersama dengan temannya di suatu tempat, Ikhsan mengirim SMS minta dibelikan kue, padahal jarak mereka hanya beberapa meter.
“Jadi bolak balik Rp 350 gitu, padahal jaraknya dekat. Tapi tidak masalah,” katanya.
Tak Ada Batas
Pimpinan sebuah sekolah khusus anak autis di Malang, Maria Elena juga mengemukakan tidak ada batas tertentu dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak autis. Setiap saat dirinya selalu menggali sisi-sisi positif dari anaknya yang autis dan
anak-anak asuhnya.
“Sampai sekarang belum ada yang memastikan apakah penyebab autis itu. Apakah karena trauma atau karena adanya logam berat dalam diri si ibu. Jadi gali terus tanpa mengenal batasan. Meskipun anak saya sekarang umur 7,5 tahun belum bisa sekolah normal, tidak masalah. Saya terus pacu dia,” katanya.
Ia bercerita, beberapa waktu lalu seluruh keluarganya dibuat terkejut oleh anaknya yang bernama Joy itu. Joy yang autis itu tiba-tiba menangis, kemudian Elen bertanya mengapa menangis. “Joy menjawab, karena saya mengantuk. Semua orang terkejut dan terharu mendengar jawaban Joy karena ia bisa bicara seperti itu. Pokoknya anak autis itu setiap hari selalu membikin kejutan-kejutan,” katanya. (Ant)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar